Tuesday, 19 May 2015

the sunflower thing

Sore ini, tiba-tiba aku merindukan banyak orang. Tidak biasa. Sungguh hal yang sangat tidak biasa. Mungkin karena ada begitu banyak waktu luang. Mungkin karena ada kewajiban---ah! Keharusan, yang belum tertuntaskan.

Dan fakta, bahwa aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa hal yang penting itu tidaklah benar-benar penting.

 Membicarakan diriku sendiri... haha...

Bukan hal yang mudah untuk  bisa benar-benar jujur, bahkan pada dirimu sendiri. Ada... memang ada, hal-hal... yang tidak harus ‘diucapkan keras-keras’. Ada hal-hal yang secara tidak sadar kita ketahui ada, tapi tidak harus selalu diakui keberadaannya. Bahkan oleh dirimu sendiri.

Munafik. Memang manusia diciptakan salah satunya dengan dibekali potensi sifat yang satu itu. Karena itulah munafik itu manusiawi. Karena itulah merendahkan orang dalam keadaan munafik itu ‘cetek’.. dangkal.

Toh orang tidak munafik selamanya. Toh memang ada saat-saat, dimana dibutuhkan kepalsuan agar hidup tetap pada tempatnya.

Karena setiap orang menjalani jenis kehidupan yang berbeda-beda.

Karena setiap manusia ditakdirkan menghadapi hal-hal ... mengatasi tantangan-tantangan... dengan  ‘cara’ mereka masing-masing. Berdasarkan kemampuan, pemahaman, pengetahuan, dan ketahanan masing-masing.

Jadi apa salahnya menjadi munafik (sesekali), jika itulah satu-satunya cara yang diketahui?


 Apa salahnya...  mengabaikan kesadaran yang menggelitik, dan menutup telinga dari diri sendiri.. jika itu yang memang dibutuhkan untuk bertahan..


Friday, 13 March 2015

..jingga, jingga, waktu

Masih senja musim gugur yang sama sejak terakhir kali aku melihatmu. Sungguh. Apa yang akan kulakukan denganmu...? Apa yang bisa kulakukan?
Duniaku bergerak, berubah. Tapi menjumpaimu? seolah waktu membeku sejak terkhir kali kita bertemu.
...sesuatu yang bagus. Sekaligus tidak bagus.

Kau tau? kadang hidup tidak tertahankan.. ketika ia terus bergerak. Terutama ketika ia terus melaju saat hal paling terakhir yang tidak kita butuhkan adalah: waktu.
Tapi... hidup tidak akan benar-benar jadi "hidup" kalau ia berhenti, kan...?

Aneh. Jingga seolah tak pernah benar-benar meninggalkanmu. Masih tetap disana, seperti tak tahu malu.
Aku akan pergi, jika itu aku. Aku orang yang seperti itu... kan?
Sombong. Keras kepala. Dan benar-benar tak tahu bagaimana caranya hidup tanpa harga diri. Sungguh menyebalkan. Mengesalkan.
Itu bodoh... kan?

Aku rindu musim semi, matahari. Tapi tak mampu melangkah meninggalkan dingin, sendiri, dalam pekat tanpa cahaya. Itu bodoh.
Ha! Apa yang akan kulakukan...? Dengan... diriku. Sungguh, apa yang bisa kulakukan...
ini buruk. Sungguh.
Dan menyebalkan.
Dan bodoh. Bukan diriku. Jika kau tahu.
...karena aku, jika itu "aku"...
Ia tidak pernah nyaris tidak tahu apa yang akan kulakukan, atau harus kulakukan
dengan diriku.

Friday, 26 July 2013

..a new 'refresh' direction..

untuk saat ini, fokus pada satu hal:
 a dream that I can reach by working hard on it. a future that keep my heart floating with passion.

bukannya aku membuang 'hal lain' yang sama berharganya dengan cita-cita, 'hal lain' yang tak kalah pentingnya dibanding 'berguna bagi orang lain'. I'll chase it! right after---
when I'm done with the other one issues. Insyaallah...

yeahhhh.... aku akan menemukanmu. aku akan mencarimu, tepat setelah aku---setidaknya setelah aku selesai dengan semua ini. setelah aku menemukan jalan untuk bisa memberikan apa yang bisa kuberikan bagi dunia, bagi kehidupan yang dengan begitu murah hati Ia sediakan untuk kita semua.
karena aku akan melakukan itu. tentu jika Ia masih memberiku waktu. masih memberiku kesempatan untuk berjumpa denganmu dan merajut benang-benang impian terhebat dalam sejarah kehidupanku.

aku akan fokus pada hal ini dulu. karena, setengah mati memperjuangkan dua hal paling BESAR sekaligus paling tidak masuk akal dalam hidupmu pada saat dan waktu yang bersamaan hanya akan mengacaukan segalanya. karena kau membaginya setengah-setengah. karena kau tidak bisa benar-benar fokus pada hal yang satu dengan mengesampingkan hal yang lain. jadi sebaiknya kulakukan satu demi satu.

a one new 'refresh' direction....

Allah....
Ilahi Rabbi... rencana-Mu adalah yang paling sempurna, keputusan-Mu adalah keputusan paling bijaksana... pada siapa lagi bisa kupercayakan semua harap ini jika bukan pada-Mu..? Maha Suci Engkau wahai pencipta, pemilik, dan pemelihara alam semesta beserta segala isinya.

Monday, 15 April 2013

melukis langit...
siapa yang sanggup melukis langit? tidak ada. Kecuali Sang Pencipta.
langit yang selalu bergerak. Menampilkan beribu komposisi berbeda dalam kedipan mata.
Tidak akan pernah ada yang sanggup melukis langit sebagaimana ia adanya, kecuali Sang Maha Pemilik.
Langit dengan awannya. Dengan komposisi warnanya. Gelap malamnya. Bahkan cerah pelangi di akhir tetes-tetes gerimis dan matahari.
Warna jingga yang memantulkan kehangatan matahari. Seolah langit melelehkan kehangatan matahari demi bumi yang didekapnya. Memberikan kehangatan yang merambat merasuki hati.
siapa lagi yang mampu melukis langit?
Jawabanku akan selalu sama: tidak ada. Kecuali... Dia yang menciptakan langit untuk memeluk bumi.
tidakkah itu menakjubkan bagimu....?


Monday, 8 April 2013

jikalau aku tidak pernah merasakan hal ini,
"diabaikan" oleh orang-orang yang kupedulikan, bahkan tanpa kutahu mengapa. ah! atau mungkin aku bisa menerka namun tak ingin kuterka... mungkin aku tidak akan pernah benar-benar menyadari ini:
betapa HEBATNYA dan melegakannya menyadari bahwa Engkau tidak akan begitu. Bahwa Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang... bahwa Engkau, kasih-Mu, perhatian-Mu akan selalu ada dan terasa sama hangatnya meski ketika kubangan membuat tubuhku bau dan kotor. Engkau tidak akan menjauh... karena Engkau akan selalu ada disana. Menyambut hangat siapapun yang berlari padamu dengan segenap ketulusan.
Rabb....
pernah kukatakan pada diriku sendiri, "cukuplah Engkau sebagai penolong.. cukuplah Engkau sebagai tujuan, dan cukuplah Engkau bagiku..."
mungkin aku sedikit melupakannya ketika dunia begitu ramai dan gemerlap disekitarku, ketika orang-orang, bahkan mereka yang begitu baik, membuatku terlena dan sejenak melupakan makna kefanaan--- bahwa tak ada yang sempurna didunia yang fana ini dan itu sungguh-sungguh buruk. Dan itu sungguh-sungguh bodoh. Dan aku... benar-benar telah mendapat pelajaran yang pantas.