Thursday, 15 August 2024

The white cat that already GONE

Darimana akan kumulai?
Tempat yang terang. Allah memang lebih tahu. "Tempat terang" cenderung membuatku lalai. 

Berdiri di tepian.. sendiri berurai air mata melihat orang bergelimang cahaya di kejauhan. Tertawa. Renyah berbinar di dekap dunia.
Beberapa waktu lalu disanalah aku biasa berdiri. Di tepian suram. Kurasa. 
Disana, tanah nyaris selalu basah.. Hujan serasa jadi hiasan. Selain mendung yang sering menggantung, tanah becek kadang membuat umpatan mudah berceceran. Betapa tak bersyukurnya. Ahhh...
Sering kudengar orang berkata, "hujan itu rahmat". Ya aku tahu. Memang benar hujan itu anugrah. Aku tahu. Aku tahu. Tahu. Logika umum. Semua orang juga mengakui itu. 
Baru belakangan aku baru benar-benar bisa memaknai kalimat itu.
Crying isn't always a bad things. Lupakan temaram mendung dan beceknya, menangis itu anugrah yang merembes membasahi tanah hati. Sesuatu yang terbukti sangat kuperlukan untuk "dunia yang lebih dingin". Hati yang selalu merindu sandaran cinta paling utama. Bersama lelehan hangat air mata Allah membimbingku menemukan kokoh indahnya iman. Keyakinan pada Cinta yang paling utama. 
Sering aku lupa. Tak jarang aku terlena, tapi hujan yang datang lagi dan lagi... Alhamdulilah.

Kini aku berdiri di tanah kerontang. Sudah beberapa lama hujan tak kunjung turun. Matahari pagi hangat bersinar, dunia berjingkat jingkat ceria di sekelilingku... 
Tapi aku merasakan tanah yang kupijak kerontang. Oh Allah...
Aku menuliskan kesah itu di sini, ketika kutahu seharusnya aku berbisik pada-Mu tentang apapun. 

Kucing putih pertamaku itu sudah pergi. Entah kemana. Entah dia mati atau pergi mengikuti takdir yang lebih baik. Suatu hari dia hanya tidak pulang lagi. Aku masih bertanya, entah gerangan apa terjadi padamu. Aku masih khawatir, semoga kemungkinan kedua lah yang terjadi padamu. 

Thursday, 14 April 2022

(Mrs.)

A new life. A new dawn. 
My life as a (newbie) married woman. Blissful?
Oh, yes. Depressingly delightful.
Sometimes, there's those days where I feels like 've already found everything I need to discover in life. Like I've had enough. Nothing really excite me anymore. Sometimes. Another day, there's this feeling where everything I need is to hold on tightly to this one (worldly) man. Strange. Yet so familiarly wrong. 
I am not that kind of girl. Not anymore, since a very long time ago. That shallow me. That "un-wise" me. Silly-cry-baby-unsettled-me. 

So many changes. 
These days. This new "wilderness" so called (mrs.) life, blissfully... sometimes somehow I lost myself somewhere under the sun. Being the old version of me, the one I'm never very proud of... I hate those set back. That crybaby me. The one who needs another human being appreciation to feels content. 

Allah is enough. 
Feels like now I'm in a middle of a big trials of my "adult-life". 

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Do people think once they say, “We believe,” that they will be left without being put to the test? — Qs. 29: 2

Oh Allah, 
Rabbi... I just hope---I pray, You help me get through this excellently. There's nothing but You. The most benevolent. Oh, Lord...




Sunday, 12 September 2021

..separuh agama.

Aku memilihmu karena...
kulihat,
engkaulah separuh agama. Kurasa,
...dari apa yg kudengar, mungkin engkaulah jawaban dari lirih ratap doa-doa itu.
Karena kurasa denganmu, dengan dirimu yg seperti kudengar dan kulihat itu,
...akhirnya aku bisa sepenuhnya mengusahakan diriku menjadi hamba yg pantas, untuk-Mu,
wahai Allah. Wahai Engkau, tempatku bersandar menumpukan segala.
Engkaulah segala bagiku. Sebegitu bergantung diri ini pada-Nya, namun sebegitu sulit diriku menempatkan hidup, membiasakan hal2 untuk hanya selalu melakukan apa2 yg disukai-Nya. Sebegitu rumit. 
Doa-doa itu,
..rasa bersalah dan keluh lirih itu, kuharap engkaulah salah satu jawaban yg dikirim-Nya untukku. 
Semoga.

Monday, 6 September 2021

Di Bawah Benderang Cahaya Kita Berdiri

Tulisan-tulisan ini, aku tidak tahu apakah kau akan menemukannya suatu hari nanti.
Apakah kau akan membaca,
goresan-goresan tak beraturan yg kuselipkan di belantara maya.
Aku berharap kau membacanya, tp aku juga berharap kau tidak membacanya.

Akhirnya, dirimu mengejawantah dalam sebentuk rupa. Nyata. Dihadapanku.
Akhirnya, tirai tersibak di hadapan. 
Di bawah benderang cahaya engkau berdiri. Nyata. 
Matahari tak lagi ada di belakang pundakmu, dan tirai tak lagi ada diantara kita. 
Setidaknya, sejauh ini, 
kukira itulah dirimu.

Aku. Haruskah aku menjelaskan diriku? Perlukah kusampaikan, betapa aku, jauh di tempat-tempat yg kusembunyikan, hanyalah.. seorang pemimpi pincang yg baru saja terjun bebas ke lumpur 'kebiasaan buruk'? Perlukah ku katakan itu padamu..?
....
Aku, memilih untuk tidak mengucap sepatah kata tentang itu. Aku tahu kau akan menyadarinya. Nanti.
Cepat atau lambat.
Kau akan melihatnya. Diriku seutuhnya.
...aku tahu itu tidak adil. Bagimu. 
Tapi, disamping pemimpi-pincang-buruk-penuh-kotoran itu, kau harus juga melihat sisi diriku yang 'kubanggakan'. 

Di bawah benderang cahaya kita berdiri, akhirnya. 
Kepastian dan keraguan tergambar di dua pasang bola mata. Kegelisahan bisa kurasakan mengambang diantara naik turun buncah perasaan... di bawah benderang cahaya kita berdiri.
Saling membaca. Saling menerka. 
Kepastian membentuk dua senyum simpul. 
Kau kah orang itu untukku?
Aku kah orang itu untukmu?
Hanya Allah yg tahu pasti. Tapi aku telah memutuskan. Demikian juga dirimu.
Dalam benderang cahaya kita berdiri,
..dengan menyebut nama Allah yg maha pengasih lagi maha penyayang kita memulai, perjalanan ini. 


Tuesday, 3 August 2021

..di sisi Ibumu..

Bersanding di sisi Ibumu, sudah selayaknya aku menempatkan diri di urutan kedua. Memang begitulah Rasulullah mengajarkan. 

Aku akan berusaha. Sebaik-baiknya. Insyaallah.

Toh di hatiku pun, harus ku akui, yang paling utama
masih dan akan selalu Allah.
Aku berjanji akan menempatkanmu di atas, toh engkaulah belahan jiwa teman seperjuangan mengarungi separuh sisa hidupku. Sudah selayaknya aku mengandalkanmu. Sudah sewajarnya kita saling menjaga. Menempatkanmu di tempat-tempat teratas, di antara -- kalau tidak di atas, orang-orang terkasih dalam hatiku. Hidupku.
Tapi Allah.. dan rasul-Nya, karena kau juga mencintai mereka seperti diriku yg sepenuhnya menyandarkan hati dan hidup pada-Nya... kurasa engkau akan mafhum. Aku tahu engkau pasti mafhum.

Sejauh ini. Selama ini, aku selalu berpikir, panjangnya penantian ini. Betapa aku telah begitu lama, menunggu. Berharap. Menebak. Berharap lagi. Menunggu lagi. Menerka-nerka, akankah aku di beri kesempatan bermain peran denganmu di dunia. Ataukah, akhiratlah tempat kita bertemu. Menunggu. Bertanya-tanya. Lalu merelakan. Menyerahkan sepenuhnya pada Allah. Apapun itu, jika itu dari Allah, aku ridha. Aku bahagia. Toh  Allah-lah yg paling penting di atas segalanya. Melewati 30 tahun separoh usia, untunglah Allah membuka mata hatiku terkait hal itu. Penantian ini bukannya tanpa manfaat.

Tp, lagi-lagi kupikir, betapa lama sudah ak menunggu. Ternyata, dirimu lebih lama menunggu.
Ternyata, engkaulah yg ternyata lebih dahulu menungguku. Subhanallah... 😌😌💦

Tuesday, 8 September 2020

If I must die young, 
..if I MUST die a virgin.
I would die. I would embrace that fate.
Beautifully.

Thursday, 6 August 2020

Sekelebat mimpi melintas dikepala. Mimpi semalam.  Seakan akhir... baru dimulai kemarin.
Seseorang bertanya padaku hari ini, "kapan saat paling berkesan dalam hidupmu sejauh ini?" dan jawaban itu meluncur begitu saja: "ketika aku pertamakali bekerja" saat setiap harapan terasa 'mungkin', saat hidup terasa mudah dan sederhana.

Waktu, berjalan menggerus masa... memperjelas dan mengaburkan harapan, mimpi... cita.
Sepertinya aku berakhir di tengah-tengah hutan kedewasaan,
Tersesat, dengan peta di tangan. Terlalu mabuk untuk berpikir, terlalu takut untuk memulai..
perjalanan. Kurasa aku tersesat,
...dengan peta di tangan.
Renyah tawa musim bunga, sesuatu yang terasa begitu tua. Usang. 

....7/8/2020....

Kutatap mata kucing di dalam pelukan, sesuatu dalam pandangan matanya terasa familiar dengan sesuatu yang tua, usang dan kurindukan. Musim bunga. Sesuatu yang tidak mengenal dosa, bersih. Apa adanya.

Monday, 13 July 2020

... there's a glimmer of light at the top of the well. Oh Lord, 
All praise be to Allah. No one but Him. Only Him. Alhamdulilah... 

Friday, 19 June 2020

Today is still Friday,

Regardless how I feel, 
time has its own pace....

What if my sadness cools off even before Sunday?

Even though I am sad today,
I can smile tomorrow. 
I can smile anytime.
It's OK.

--- Kang Kyung-ok / Narration of love at 17

Friday, 12 June 2020

TOO YOUNG TO BURN**

**Yup! You're right. Those tittle, I stole it from one of the "Sonny and The Sunsets" song's lyrics because its hopelessly keep hummings in my head after I watch this so-so movie 🤧


I am falling... down, deep into the rabbit hole. Or at least I wish this is a rabbit hole, only a rabbit hole. Where a place called Wonderland awaiting for me deep down below. And not hell. But I know this isn't just a rabbit hole where Alice falling.
I wouldn't be that damn lucky, right?
This fall, this depressed-dark-gloomy-heavy feelings like free fall on an outer space,
is just me. Growing up. Growing old. Growing to learn the meaning of one existence in this so called life.
Right know,
one of those dark mood reign over my head. Like dark clouds that brings the breeze and the chill. 

I see things but I don't see it. My mind full of thought I didn't want to think of, or feel or see or know. And there's pitch black in my heart. I talk I walk I eat I smile I laugh yet it feels like its wasn't me talking. It wasn't me who's walking.. smiling.. laughing, eating. It's just my 'body' doing chores. Myself definitely lost. Somewhere in the wilderness. Hiding. Gazing. Drowning... On those pitch dark wilderness thought. Might be cowering. Somewhere on one of those damp and cold corner of mind. Crying. Quietly wishing that a rescue would eventually come. Or not. 

On those another moody day, I sometimes didn't really talk a whole day, prefer at my own company, or else my bad attitude would almost certainly "set a fire" and "burn" anybody near me. That's why I prefer my own company on those days. Especially those days.
Am I weird? Is this weird? I never really question it myself before. I never mind of it before because I embrace it as part of my traits. I'm not perfect, but nobody's perfect, except God, and I am grateful for the way I am made. Or being. I'm not always love it ---myself, my life or everything else around and about me, but I certainly am not always not like it either. 
That's until recently. When the middle ages slowly approaching and kick its infamous crisis down to my peaceful consciousness.
The pressure to fit in. I'm not used to it. I enjoy life being indifferent before, yet, now both my consciousness and unconsciousness keep remind me to choose once for a lifetime offer with the sounds of a watch ticking limited countdown every single second in the background. I need to hurry, yet I can't be reckless. I still enjoy this "forever young" kind of feeling, yet deep down I know there's no such things in this world that didn't wither away. I needed more amount of time, yet time was a tricky privilege which treat every single things in this whole vast universe equally. It is a foolish wimp to think that it will treat me differently, it is a big no way! I know. Yet, still I found myself miserably longing to be granted that extra time, a "time out", before I finally forced to resolve this difficult-problematic-depressing options life has gave me. I still don't want to think about it. I'm not ready! No... Not yet. Might be never.  A Peter Pan kind of wimpy-wishy-childishy-idiotic attitude, I know. Sadly enough, I know exactly what that's means too. 

This is me being stuck. In time. Yet time never wait for anybody ---anything to catch up. Some people, some miserable and foolish creature, wishing ---praying a certain stage on a river of time could be personally frozen for them. One foolish wish. 


Here's  some quotes for you, 







And if time is like a river, this ancient Greeks old man certainly is one of its kind, 


Monday, 25 May 2020

Another [Complicated] Me


I'm so picky... dalam situasi normal, aku cenderung sangat teliti memilih sesuatu yg akan kumiliki---atau kemungkinan menjadi milikku,
..karena sesuatu yg kumiliki, means forever... dalam situasi normal tentu saja. Ketika semua keputusan untuk menyimpan, melepaskan, atau membuang sepenuhnya ada di tanganku, aku tak akan membuang apapun---nyaris apapun, yg pernah punya makna dalam perjalananku menempuh sang hidup.

Seperti lagu berjudul "Hotel California" itu, sesuatu mungkin bisa dengan mudah [atau sangat sulit] melangkah memasuki kehidupanku,
tapi berhati-hatilah untuk tidak terjebak, dan membiarkanku memegang semua kendali. Karena jika sampai itu terjadi, aku mungkin tak akan melepaskan apapun.
Jika semua pilihan ada di tanganku, jika kuasa sepenuhnya di pihakku, bersiaplah untuk melihatku seumur hidupmu. 
Namun, ketika pilihan "pergi" masih kau simpan sendiri, ketika kemudian kau memakai pilihan itu dan memutuskan untuk meninggalkan dunia kecilku, kau akan menyadari bahwa takkan ada sepatah ratapan pun keluar dari mulutku. You're free to go. Believe me, I will let you go with my head's up.
Aku mungkin akan menatap punggungmu, melangkah menjauh dari hidupku, tanpa air mata. Tidak akan ada air mata. Tidak saat kau masih bisa melihatnya, tidak. 

Aku mungkin membiarkanmu pergi. Begitu saja. Tapi kau mungkin takkan menyadari yang tersimpan di belakang mataku. Bahwa kepergianmu bukanlah "akhir". Kau mungkin memang sudah pergi, tapi kenanganmu---hal yg jelas berada di area "kepemilikan"-ku, adalah milikku untuk kuletakkan dimanapun. 
"incapable of throwing something out", entah itu kebiasaan yg bermanfaat atau merugikan. Aku bisa memaafkan. Aku dengan mudah bisa melupakan. Tapi butuh kuasa lain bagiku untuk "mengenyahkan" kebanyakan hal dalam hidupku.

Lihatlah barang-barang  di rumah masa kecilku. Barang-barang dari zaman antah berantah. Barang-barang lama yang segala keputusan untuk "tinggal/pergi"-nya sepenuhnya ada di tanganku, dan tangan sang waktu.  Sebagian besar  dari mereka, berdesakan di sudut2 tak terjamah. Tak pernah benar2 kubuang atau sepenuh hati kusimpan. Beberapa lainnya, tersimpan aman rapi di "kotak2 penyimpanan". Lainnya, tak pernah benar2 berhenti "bekerja" sampai ia tak bisa "dipekerjakan" lagi, bahkan setelah itupun---terutama setelah semua itu, aku takkan pernah sanggup membuangnya. 

You might call me klepto. Obsessive-compulsive-control-freaks. Or whatever. Doesn't matter. 
Thruth is, I'm just once upon a time this girl, this sweet little girl who want to cherish every-single-thing-in-this-world that worth to be cherished, not knowing that "this world" is so very very big and partly cruel.
Now, growing up, as almost every sweet little child lost its sweetness somewhere in between,  I guessed I'm not an exception. Now, I'm just this girl, an ordinary woman... who still can't give up a little girl bad habit and obsession of collect or own or cherish something she's infatuate with. And she's not that innocent no more. Of course she doesn't. 
  
**I'm not that nice, just so you know. If our fate ever intertwined, you should know.. and be prepared that I, would never ever let go of your hand except you're doing it first. 




Saturday, 2 November 2019

this genre of movies : dark comedy

Am I that shallow before? I don't know. I despise shallow people the most, I don't wanna be one of them, yet, there might be a chance that I already live that kind of life before. Though I hope I did not.

At thirty, the show I am living, gradually changing into a dark comedy. 
Depressing, yet,
I'm still capable of laughing. Strangely find myself smirking. I feel everything, deeply. Heavily. I never thought thoughtfulness gonna be this heavy. Like a dark clouds following you everywhere. Reminds you that in life, "it is" never always be "what it is". 
Oh, and in this dark comedy stage, theres this one ingredient that always be there wherever you go, whatever you do, whichever emotion you put on your face.. that salt-kind-ingredient of life: sadness.
On such a happy-setting-stage, sadness still presence in the far far away corner. Hiding in the darkness. I might not spot it right away, consciously at some occasion, but I would always find it whenever I let myself uncosciously search for it. Thankfully, theres one thing nice about sadness,
it gave extra meaning in whatever I see through it.

Now, I'm not that innocence anymore.
Well yeah, I'm thirty for the record, it's normal at that stage of life. Though I did miss my old self sometimes ----that happier me, but... life must go on! yeah
Whatever life put you through, whichever sight life force you to see... what kind of ruin you ended up to be, that's on your hand. They are the result of your own choices.
So, yeah! Life must go on. Because I refused to be that irresponsible.
My life might been a mess collide with bad habbit, bad attitude... and a heavily resentment. It might not the life that I always wanted, but life must go on.
With that in mind, I know I might life in this denial state forever... but, that's the best choices I could pick, right now. For now. So, it's ok. It's ok. Or so I say.

Thursday, 31 October 2019

living on autopilot phase

[I call it 'time out' mode, though time certainly never give me that luxury. my very great loss. i know it. i resent it. i just can do nothing about it. i dont. i think i dont]

The rain finally fall. The season finally changed. It's October 31st 2019, at 22.45pm...

At thirty, at this very age.. I've had this emptiness. numbness.
no excitement about future they called 'live' no more. Life just time, 
passing through. sadly. boringly. metodically.
forgotten dream. lost passion. bad habbit growing nasty..
gradually fading into darkness.
Whatever they call it this symptoms, I consciously realize that,
I'm falling.
somehow still falling,
down
down
down... down...
I know falling wasn't always a bad thing, there's so many statement out there about people hitting rock bottom, then bounce back. awesomely.
but,
I don't know. 
Will I bounce back when I finally hit that rock deep deep down below?
Will I have that strength? will God grant me that mercy?
Jim Moriarty, this villain from this Sherlock tv series once said,

...Falling is just like flying, except there's a more... permanent destination. And, it's not the fall that kills you.
It is the landing.

yea, the landing. that so called 'hitting rock bottoms'.
I realize I'm falling. and this falling certainly would stop at some point,
I don't know when, but, just like the rainy days come.. this falling would either make permanent those emptiness-no passion-metodically ignorant-boring life of mine, or
there's that bounce back thing.

one thing,
I think, when I finally awake from this  terrible dream,
when I finally feel the flow of time again,
I maybe awaken, finding myself all alone.
...after those terrible ignorant bad things that I did, 
it's only natural that people left me. It is, if I ever awaken, as a sane normal person, not the permanently mad one. 

Sunday, 8 September 2019

this TVseries, I can't get over with

The Spanish Princess
https://m.imdb.com/title/tt8417308/

My newest most favourite TV Series besides Sherlock https://m.imdb.com/title/tt1475582/ and Gossip Girl
https://m.imdb.com/title/tt0397442/

Well, akhirnya!
Sebuah kisah dari sudut pandang Catherine! Woaaah!
Everybody----almost every adaptation drama or documentaries I've watched around the Tudors court, seems to adore that other Boleyn girl more than this Spanish princess... They tend to underrated  Catherine as an ignored boring-old-rigid first wife of Henry VIII.

Anne Boleyn was the mother of famous Queen Elizabeth, and she's beheaded because of the king's jealousy which means she's very favoured once, and that she 'played' her tricks so well at Henry's court..
But, I think I'd never root for her, or her ambition, or her coyness. No. It will always Catherine for me,
True, Catherine was someway no different than that other Boleyn girl. She has a goal, and she know how to reach it. And she played well with 'tricks' too, but, there's this senses of dignity in her where on that Boleyn's girl I could strangely feel this whor*ish smell.




Wednesday, 24 July 2019

the broken porcelain

I grow up in this one house... people see it as a broken one.
They know me as a child, from this broken relationship. A broken kid. 
Not that I care.
Growing up, I certainly didn't have everything I want.. just like any other usual kid in the world. Growing up, I did learn what it means being un-usual, being the kind of child who-own-a-broken-houses. It never really hurt me, growing up. Well, sometimes I really did crying. Feel the loneliness around me. The cold inside me. The un-usual things that make me didn't get what any other usual kid easily have, the one they unconsciously take for granted. I did really have envy sometimes, that me against the world kind of feeling, or the blame, or the pity-me-moment. But, all of that just little me.. growing up.
I did learn. And I did growing up. And I am grateful.
This whole me, the one some people still see as a broken porcelain, I did grateful for myself. Or that particular people I called home, the one who originally own that broken houses. The one with broken relationship.
Allah put me in that broken place with reason. There's always intention. And Allah intention.. there's always something emotionally beautiful in His mysterious-grand-plan. 
It wasn't an easy experience, growing up, nor the most difficult. It just, little me, being taught. Being loved.
Now, when being the-broken-porcelain thing start to give me headache, heartache and crawl-under-my-ignorant-kind-of-skin, I can only believe in Allah.
He owns me. He owns this whole world and the hereafter. He is the Owner of everything.
This broken-porcelain-skin that most parent find it ugly, this beyond-my-control things that starting to try to drag my contentedness away.. I won't let it win over me. It surely can hurt me. It surely did frustrate me. But, in Allah I seek guidance. In Him I seek protection.  And in praying Him I find tranquilness.

Saturday, 20 July 2019

THE FALL

"....... I let it fall, my heart ......" 

Gini tho rasanya. Membuka hati, memberi izin pada dirimu... merasakan kehadiran jiwa lain.
Membiarkan hati, berbuat sekehendak hati.
Rasa ini,
bukan jenis yang merambat dari pandangan mata ke ulu hati. Atau jenis yang berdetak begitu saja, hadir tanpa aba-aba. Rasanya bukan. Aku membiarkan hatiku merasa,
lalu 'kejatuhan' itu menghasilkan detak-detak di ulu hati. Rasa.

That fall, made me feel your everything. This fall, just this damn thing called 'in love', I basically let myself falling for you. Feels for you.
I didn't know yet if this is gonna be good or bad for us, to just let myself easily feels this way about you. All I know, right know... my heart beats in your name. Wait! Okay, maybe that last sentence was a little bit exaggerating. Well, my point is, I finally know what it means when some girl saying with a soft-sad-dramatic-voice, she let herself feels for somebody... other than herself. A man. Maybe a boy. A love interest. I think this is quite different than a crush-kind-of-feeling. This is not something you fall without knowing when or how. This thing, this heart-beat-in-your-name kind of feeling that I am talking about only happen after you let your heart, your soul or yourselves open to feel for a certain person.
Well, well...
this is me, falling.
For you I'm feeling. ***Now, I quite understand why it call 'falling' when somebody in love with someone else.

This fall, this one that I'm gonna do, I'll do it for you... freely... knowingly. Hoping you're the one, I've been waiting all along. I've been missing all this life.
just so you know. 

Saturday, 1 June 2019

the MOTHER

Pada umumnya, di banyak kasus, ibu, 
adalah salah satu orang yang paling mengerti dirimu. Memahami benar karaktermu.
Tidak dalam kasusku.
Setidaknya, aku tidak merasa demikian.
Tidak masalah. Tidak ada yang salah. Toh, di dunia ini bukan cuma aku yang mengalaminya.

Beberapa orang bisa berkata dengan bangga, ibuku... ibuku... ibuku. Aku?
Aku tidak tahu.
Aku menyayangi ibuku, tentu saja. Siapa yang tidak? Se-asing apapun seorang anak dengan wanita yang melahirkannya, ada sebentuk rasa ---tak terbaca--- mengikat keduanya.

Umumnya orang, bisa dengan indahnya berkata, ibuku... ibuku... ibuku. Aku?
Mungkin dua kata pertama. Atau terakhir.
Ingin menjadi ibu seperti apa aku dimasa depan? Satu hal yang pasti,
jika bukan untuk perkara hidup dan mati, aku tidak ingin menjadi ibu yang tidak mengenal anaknya.
Setiap wanita, hampir setiap wanita memiliki alasannya masing-masing ketika mereka lebih mengutamakan karir.
Memilih bekerja di luar rumah dan membiarkan anak dibesarkan orang lain. Hampir semua ibu punya alasannya masing-masing, untuk tidak mau menjadi wanita yang hanya mendekam dirumah mengasuh anak. Bersih-bersih. Memasak. Dan 'mengemis' pada lelaki beberapa keping koin yang harus setengah mati ia anggarkan. Apa aku akan bisa?
Ketika kepingan koin itu ternyata masih sangat belum mencukupi anggaran, apa aku akan mampu untuk tidak menyerahkan tugas pengasuhan anak pada orang lain, dan bekerja di luar rumah? pilihan macam apa yang akan kubuat?
Mereka bilang, buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya... Apa pada akhirnya, aku juga akan mengambil satu-satunya pilihan yang paling kusesalkan pernah diambil ibuku?
Aku tidak tahu. Aku jelas tidak ingin begitu. Tidak dalam satu hal itu.
Aku tidak peduli feminisme, kalau itu sudah berkaitan dengan anak. Aku akan menjadi ibu bagi anakku walau itu berarti seutuhnya mencukupkan diri pada apa yang dinafkahkan lelaki. Membiarkan lelaki yang keras mengusahakan penghidupan. Aku akan menjadi rumah, tempat ia pulang melepas lelah.
Mencukupkan diri. Menempatkan diri. Mengolah emosi. Tersenyum. Rumah.
Tidak masalah bagiku menjadi perempuan jawa. Yang menempatkan dirinya dibawah lelaki. Membiarkan dirinya dilindungi, bahkan ketika sebenarnya ia mampu melindungi dirinya sendiri. Aku tidak keberatan menjadi gadis kolot itu, yang meyakini bahwa kodrat wanita adalah menjadi ibu. Ibu. Ibu yang tugas utamanya adalah melahirkan dan mendidik buah hatinya.
Aku akan menjadi ibu, ketika panggilan itu datang. Terutama ketika panggilan itu sangat dibutuhkan di masa-masa awal pertumbuhan anak. Dan aku akan menjadi wanita seutuhnya ketika panggilan lain datang, ketika tugas pengasuhan dan pembinaan itu tidak lagi mengikat, aku akan menjadi wanita yang mencoba memeluk kembali hasrat dan mimpi-mimpi lamanya.

Begitulah rencananya. Ha!
Manusia berencana, manusia diberi pilihan-pilihan oleh Tuhan,
akhir dari pilihan-pilihan itulah ujung rencana.
wallahu a'lam bisshowab

Monday, 6 May 2019

this whole time

Aku menunggu seseorang. Menunggu.
Aku berdoa, berharap dipertemukan dengannya di dunia. Mengharap menjadi 'rumah' bagi satu sama lain, di dunia. Bersama, berkontribusi mempersiapkan dan mengusahakan yang terbaik untuk generasi masa depan.

Aku sungguh berharap, akan sempat dipertemukan dan dipersatukan denganmu di dunia.
Bertengkar. Menangis. Berbaikan. Tertawa... dan bersyukur bersama-sama. Mengingat-Nya.
Dia, yang begitu indah mempertemukan kita.
Satu Ramadhan lagi,
dan aku masih menunggumu. Mendoakanmu, kadang-kadang. Lebih intens akhir-akhir ini.
Aku sadar tidak ada yang salah dengan kesendirian. Karena sendirian, tidak pernah benar-benar berarti sendirian... karena dalam kesendirian, kurasakan betapa halus dan dahsyat Allah mengatur dunia. Karena dalam kesendirian bisa kudengar suara kalbuku mengkhotbahkan kebijaksanaan.
Aku tidak benar-benar tidak menyukai kesendirian, karena kesendirian dengan-Nya adalah yang terindah. Kesendirian dengan alam, atau di tengah hiruk pikuk, mengingatkanku pada-Nya, dan terkadang padamu.
Aku tau kau disana, di luar sana... di ujung benang takdir jodohku.
Beberapa wanita masa kini, kudengar mereka berkhotbah bahwa mereka tidak butuh lelaki, atau anak-anak yang memanggil mereka ibu untuk merasa utuh, merasa lengkap akan dirinya sebagai makhluk.
Tapi bagiku, bahkan ketika aku sadar benar bahwa Allah adalah cinta yang pertama dan utama, yang tanpa-Nya aku adalah tiada, alam bawah sadarku sadar benar bahwa diriku adalah bagian dari keseluruhanmu. Aku adalah tulang rusukmu, bagian yang dekat dengan hatimu. Utuhku adalah dipersatukan denganmu, menjaga dan membesarkan buah hatimu. Utuhku adalah menjagamu, meski aku cuma bagian kecil yang butuh kau lindungi.
Ramadhan ini aku masih berdoa dipertemukan denganmu. Di dunia.
menunggumu menemukanku. Apa kau mencariku? Berapa pasang mata telah kau coba tanyai untuk menemukanku?
Kudengar fasih suara lelaki mengaji, kemudian aku merindukanmu. Menebak-nebak kira-kira seperti apa dirimu. Bertanya-tanya dalam hati mungkinkah itu engkau.
Seorang lelaki, kesal menghardik lembut mesin pemandu google map-nya, dan aku tersenyum, tiba-tiba teringat dirimu. Bisakah kau juga bertingkah kekanakan seperti itu kadang-kadang? Kau tidak harus selalu seteguh gunung, sesekali, kita bisa bertengkar, menangis, tertawa atau bertingkah semenggemaskan bocah.
Hai,
aku menunggu seseorang. Apa mungkin kau mengenalnya?

these quote from these movies that moves me, what do you think?

We're not like these people.They have stuff,  we're never going to have. They have these houses. They have boats. They have foreign cars. They got money in the bank. You know? They got privilege... connections. You're a cashier. I'm a thief, honey. 
That's the way it's always going to be. OK?
People like us, 
see, we don't even win the lottery, for God's sake. 
We're born in little houses, and we die in little houses, and we got to find happiness.....
somewhere in between.

--- people like us, said by Frank from "Two If by Sea" movie